Tampilkan postingan dengan label PENGETAHUAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENGETAHUAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juni 2010

BIO-ECONOMIC SEBAGAI ALTERNATIF

Ada sejumlah keluhan pada beberapa waktu ini bahwa ilmu ekonomi sudah tidak mampu lagi melakukan prediksi dan pemecahan berbagai masalah ekonomi yang kompleks dan rumit bahkan sejak 1930 pada saat terjadinya “Great Depression” hingga krisis finansil yang melanda dunia pada 2007 yang hingga saat ini belum juga pulih sepenuhnya. Memang ilmu ekonomi masih mampu melakukan prediksi pada saat kegiatan ekonomi masih sederhana, tertutup dan masih bersifat regional dengan sistim perdagangan yang bilateral. Dengan adanya globalisasi, khususnya di sektor finansil pada pasar uang, saham, derivatif, komoditi, obligasi dan surat berharga lainnya.
Menurut Prof. Paul Ormerod bahwa ilmu ekonomi telah mati (The Death of Economic) dan beliau memberikan suatu solusi untuk memakai metoda The Butterfly Economics dalam bentuk cara semut dalam berkelompok dan berorganisasi, termasuk menentukan target gula yang dapat diartikan sebagai peluang bisnis dan keuntungan ekonomi dalam bentuk kerjasama yang harmonis. Hal inilah yang telah digagas oleh Adam Smith sebgai Bapak Ilmu Ekonomi bahwa ekonomi adalah suatu ilmu untuk mensejahterakan masyarakat dengan selalu menjaga lingkungan hidup dan alam semesta (astronomis) ini agar selalu harmonis dan sinergis yang berguna bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang. Tetapi para ekonom pengikut Adam Smith tidak dapat menterjemahkan rumusan ini ke dalam rumus, metoda, analisa dan keputusan ekonomi yang baik.
Inti dari pesan mulia ini adalah kita semestinya memperlakukan manusia, hubungan manusia dengan manusia lain dalam kegiatan ekonomi dan pengambilan keputusan ekonomi haruslah dalam konteks yang harmonis terhadap lingkungan sosial, lingkungan hidup dan lingkungan alam semesta dalam visi, kegiatan dan konsep yang lebih kompleks (non-linier), manusiawi dan ramah lingkungan dan bukannya bersifat maksimalisasi keuntungan serta eksploitasi berbagai sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam aspek sosialnya. Itulah sebabnya ilmu ekonomi dan bisnis hanya menghasilkan berbagai masalah, seperti kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, gejolak ekonomi dan sosial-politik, kemiskinan, penyakit, perang dan kerusakan mental (egoisme, keserakahan, konsumerisme, dan kekayaan berlebih tanpa nurani suci).

1. Asumsi-asumsi dan simulasi linier matematis
Ilmu ekonomi banyak menggunakan berbagai asumsi-asumsi sebagai parameter dalam menghitung laju pertumbuhan ekonomi beserta faktor-faktor pengaruhnya yang sering tidak mewakili kondisi sebenarnya yang berkembang di dalam ekonomi lokal dan dunia luar. Ekonom mensimulasi rumus-rumus turunan (derivat) secara matematis yang akan diuji secara statistik (uji kejujuran dan standar deviasi terhadap validasi data) dalam bentuk pola koordinat yang berbentuk garis lurus. Dengan demikian selain hasil metoda ekonomi hanya bersifat tertutup dan sederhana, juga tidak menggambarkan aspek kondisi biologis, psikologis, harapan dan kebutuhan dasar serta kemajuan teknologi manusia yang umumnya bersifat kompleks dan berdimensi 2 – 3 dan tidak mampu diukur secara akurat oleh metoda ekonomi linier yang berdimensi lebih rendah yaitu dimensi1. Pada dasarnya garis linier (lurus) akan dikuasai oleh dimensi ke 2 (garis kwadratik yang melengkung) berbentuk bidang (X Y). Dimensi ke 2 dikuasai oleh dimensi ke 3 berbentuk ruang / volume (X Y Z), dimana kompleksitas manusia sebagai mahluk biologis, psikologis dan sosial akan banyak menggambarkan dimensi ini. Area ini akan banyak digeluti oleh bidang biologi murni, biologi terapan (kedokteran, pertanian, perikanan, kehutanan dan bioteknologi), filsafat, psikologi, sosiologi, seniman, feng sui & hong sui dan sekarang mulai berkembang di bidang teknologi informasi (dimensi 3), komunikasi (3 G), termasuk bidang pasar finansil (financial astronomis) dan program computer artificial intelligent, bio-hibrid, dan lain-lain.
Manusia yang hidup di dunia ini akan selalu dipengaruhi oleh dimensi 1 – 4 dalam bentuk pengaruh fisik dan kimiawi (dimensi 1 – 2), pengaruh biologis untuk bertumbuh dari saat lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa, menua dan mati yang mempengaruhi perkembangan fisik, biologis dan psikologis sesuai dengan tingkat perkembangan budaya, pendidikan, prestasi, status sosial yang sesuai dengan “piramida Maslow” dalam pencapaian needs & wants menuju aktualisasi diri dari seorang individu dan kelompok sosialnya (dimensi 3) dan kehidupan dan ketaatan beragama (dimensi 4). Model teori ekonomi yang tertutup, sederhana dan linier ini tentulah tidak dapat mengantisipasi dan memprediksi secara tepat dan akurat dalam jangka menengah (bulanan-tahunan) hingga jangka panjang (dekade dan abad). Ilmu ekonomi dapat memprediksi dengan baik jika pada kondisi ekonomi tertutup, monopolistis dan sederhana sebagai faktor internal tanpa memperhitungkan faktor eksternal. Dan menurut M. Dawam Raharjo (Cakrawala, harian Bisnis Indonesia, 29-02-2004) bahwa ekonom tidak mempertimbangkan faktor budaya dalam rumus ekonominya. Padahal budaya adalah gambaran dinamika manusia untuk bertumbuh, berkreasi, berkelompok dan berorganisasi sesuai norma dan adat kebiasaan dalam kehidupannya setiap hari, tergantung apakah tertutup, statis dan konservatif atau terbuka, dinamis dan modern yang akan menentukan tingkat kemajuan bangsa itu sendiri, termasuk ekonominya.
Juga menurutnya bahwa Greenspan ekonom terkenal dan Ketua Federal Reserve Board tentang kasus Rusia yang setelah meninggalkan sistim sosialis ternyata tidak serta merta mampu mengembangkan ekonomi pasar bebas (tetapi beliau lupa dengan kemajuan Cina yang akan menjadi negara maju sekuat USA pada 2020). Sehingga ia berucap ternyata not nature at all, but culture. Selama itu sebelumnya, ia melihat bahwa pasar itu seperti alam, punya hukum-hukum pasti, sebagaimana pandangan ekonom umumnya. Hal ini terjadi kontroversi dalam rumus dan praktek ekonomi yang justru bersifat linier semata. Menurut kami, sebenarnya jika ekonom memasukkan hukum-hukum alam, khususnya biologis maka akan jelas adanya suatu “kepastian hukum alam” karena memang alamlah yang membuat terjadinya suatu siklus dalam peradaban (culture) manusia, termasuk siklus ekonomi (recovery, prosperity and recession) dalam perjalanan ruang dan waktu. Seperti paragraph di atas bahwa Adam Smith membuat teori dasar ekonomi berdasarkan hukum alam, tetapi dalam penerapan rumus, teori dan praktek sudah tidak mengimplementasikan pemikiran Bapak Ekonomi ini. Mereka saat ini justru berkutat pada rumus-rumus matematis dan statistik yang bersifat linier belaka tanpa menyertakan berbagai rumus dan realitas hukum alamiah, seperti fisika, kimia dan biologi. Ekonom hanya menurunkan (derivat yang sekarang marak dalam bentuk berbagai bentuk bisnis financial derivatives) rumus matematik empiris dan asumsi – asumsi ekspektasi linier tanpa memperhatikan hukum natural (dimensi 2 – 3) dan hukum supernatural (dimensi 4) yang akan selalu sangat mempengaruhi siklus dan gejolak budaya dan peradaban manusia, (termasuk ekonomi), yang hasilnya jelas terlihat bahwa pembangunan ekonomi dan perkembangan teknologi yang sering tak ramah terhadap lingkungan alam dan sosial. Jadi semestinya ekonom dan teknolog lebih menyandarkan diri pada teori relativitas Einstein, E = mC2 untuk menghasilkan enersi, profit dan hasil berlimpah tanpa harus mengorbankan banyak biaya modal, kerugian (akibat risiko siklus dan gejolak ekonomi), pemborosan SDA, kesenjangan sosial dan kerusakan lingkungan hidup dengan efisiensi pemakaian m (mass) dalam kuantitas lebih sedikit, tetapi memperbesar kecepatan kwadrat (c2), seperti proses hasil yang dilakukan oleh Nannoteknologi. Inilah yang dialami banyak negara, khususnya di era globalisasi yang terbuka dari berbagai inovasi dan pengaruh teknologi, produk, likuiditas uang, budaya serta teknologi informasi dan telekomunikasi, khususnya aliran modal di pasar valas, uang dan saham yang bergerak cepat di seluruh dunia dan mampu menimbulkan gejolak dan turbulensi ekonomi suatu negara dan regional. Ilmu ekonomi matematis dan statistik tidak dapat memprediksi, menghindari dan membuat peringatan dini terhadap suatu kejutan dan gejolak perubahan eksternal yang begitu cepat, massif dan kadangkala ganas jika suatu negara, masyarakat, perusahaan dan individu tidak siap dan mampu mengantisipasi kejutan ini layaknya “second and third wave” Alvin Toffler.

2. Kebijakan Moneter - Fiskal dan Implikasinya dalam Mengantisipasi dan Meredam Krisis Ekonomi 1997 – 1998.
Hal yang akan dilakukan dalam kebijakan ekonomi untuk mengantisipasi dan meredam terjadinya krisis yang makin berat dan mendalam pada tahun 1997/1998 adalah dengan beberapa alternative yaitu menutup kembali keterbukaan itu dengan cara Kontrol Devisa, Fix Rate (Peg to USD), Manage Floating Rate bahkan Currency Board System (CBS) di pasar valas dan saham serta proteksi ketat terhadap berbagai produk dari luar. Dengan saran IMF adalah dengan menaikkan SBI hingga 70 %, pengetatan fiskal, mengurangi subsidi dan melikuidasi sejumlah bank dengan CAR minus. Semestinya para ekonom memang harus memakai ilmu psiko-sosial untuk meredam gejolak dan bukan hanya semata memakai teori ekonomi dan moneter yang sebenarnya tidak terlalu manjur. Dan, meski kelihatannya sangat berat, misleading, merusak perbankan dan bersifat shock therapy untuk memperkuat Rupiah dan mengendalikan import inflation. Tetapi secara ekonomi jangka panjang, sebenarnya adalah agar kita dapat mampu kembali bangkit meski telah banyak mengorbankan bank dan perusahaan yang bangkrut serta naiknya tingkat pengangguran dan kemiskinan. tetapi itulah yang harus kita bayar dan lakukan atas semua kinerja kita yang kurang professional dan prudent dalam mengelola utang negara dan bisnis. Dan hasilnya kita terlihat mulai benar-benar sehat, kuat dan bangkit kembali. Selama ini kita dapat mengandaikan bahwa selama ini kapal Indonesia hanya berlayar pada sebuah aliran sungai yang terttutup dan tenang tanpa adanya angin kencang dan gelombang besar. Gelombang besar dan angin kencang ini mulai mengombang-ambingkan kapal Indonesia di dekat Laut Cina Selatan, di Laut Arafura dan Laut Morotai yang membuat penumpang Indonesia panik, dimana banyak orang berusaha menyelamatkan diri dan akhirnya mengirim SOS ke IMF. Banyak penumpang dalam kepanikan ini ternyata mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Jadi agar kita dapat survive terhadap semua gejolak eksternal pada era globalisasi ini adalah dengan bervisi, berpikir, berkonsep dan berperilaku biologis yang kompleks untuk memecahkan berbagai masalah kompleks terhadap kondisi internal dan eksternal. Kejutan ini dapat berupa munculnya ketidakpercayaan investor global terhadap kondisi manajemen dan perilaku bisnis serta pemerintahan yang tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip ekonomi-bisnis maupun manajemen administrasi (Good Corporate Governance dan Clean Government) yang menimbulkan banyaknya moral hazard, fraud dan adanya mismanajemen lainnya maupun kejutan teknologi berbagai jenis produk barang, jasa dan budaya. Nah pada saat muncul krisis moneter dan ekonomi berupa krisis kepercayaan terhadap pengelolaan bisnis, ekonomi dan pemerintahan, maka investor asing di pasar uang, saham dan sektor riil beramai-ramai meninggalkan negara tersebut dalam bentuk melepas posisi mata uangnya dengan hard currency, panic selling di pasar modal, menarik semua rekening giro dan deposito di perbankan dan surat-surat berharga serta menutup pabriknya yang ujungnya “Capital Flight” besar-besaran. Inilah yang kita kenal sebagai “Krisis yang Berdampak Sistemik”, dimana hampir semua institusi bisnis finansil dan riil akan terkena dampak yang besar dan berat, sehingga sistim ekonomi, bisnis dan finansil akan mengalami kontraksi berat yang menyebabkan gejolak dan krisis parah serta menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi negatif. Hal ini juga terlihat pada saat Jepang mengalami krisis dan deflasi jangka panjang dan juga pada 2007/2008 di USA dan Eropa (kasus Yunani yang hampir bangkrut). Hanya saja negara-negara maju tidak memanfaatkan jasa IMF dalam berutang, tetapi menerbitkan sejumlah surat utang negara dalam berbagai bentuk untuk melakukan paket bailout dan stimulus, sehingga menjadi beban negara yang berat dan harus ditanggung oleh generasi berikutnya, seperti kasus BLBI sebesar Rp. 650 Trilyun. Jadi marilah kita mengelola keuangan negara dan perusahaan secara lebih sehat sesuai struktur permodalan yang kuat dengan manajemen ekonomi-bisnis yang sehat, kreatif, innovatif, efisien dan efektif dalam memajukan negara maupun perusahaan agar tidak terjadi moral hazard, fraud, ketidaktahuan, kecerobohan, kelalaian dan keserakahan dalam mengelola ekonomi dan keuangan negara dan bisnis. Janganlah ingin cepat besar, tetapi penuh lemak yang tambun, lamban dan tidak sehat yang menghasilkan rendahnya daya saing, kerapuhan struktur keuangan dan kinerja ekonomi yang buruk serta kerentanan terhadap gejolak ekonomi internal dan eksternal. Inilah yang semestinya menjadi benchmark fundamental ekonomi dan bukan semata indikator makro ekonomi yang sering membuat perencana ekonomi makin pede dan akhirnya banyak berutang dengan hanya berdasarkan ratio DSR dan ratio Defisit APBN terhadap PDB yang sebenarnya tak tepat. Hutang semestinya didasarkan pada prospektif ekonomi dari kinerja ekonomi riil dan bukan dari gelembung di pasar finansil, apalagi dengan melindungi hal yang rapuh ini pada asuransi hedging yaitu Credit Default Swap (CDS) yang justru spekulatif dan beresiko tinggi, mirip kasus subprime mortgages dan Yunani yang kemudian diderivativekan lagi beberapa tingkatan membentuk bangunan raksasa, tetapi dengan fundamental yang sangat rapuh (fragile underlying sectoral economy). Walhasil jika sektor dan negaranya tak mampu membayar (default), maka akan terjadi gejolak kepercayaan yang menyebabkan terjadinya capital outflow dengan menjual semua surat berharga CDS dan derivativenya dan terjadilah catastrophic. Otomatis, perusahaan dan negara tersebut harus memberikan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi agar pasar dapat membeli dan akhirnya makin tercekik dengan hutang yang makin menggunung. Hal ini juga kemungkinan akan dialami oleh Amerika dengan hutang raksasa di kemudian hari, apalagi kondisi ekonomi yang masih rapuh serta kekalahan persaingannya dengan China di ekonomi global.
Perencana dan pengamat ekonomi seringkali tidak dapat melihat secara insight dan visioner adanya kemungkinan kejutan eksternal terhadap suatu negara, dimana pelaku ekonomi dan pemerintah tidak mampu mengelola perusahaan dan negaranya dengan baik dan benar agar menghasilkan sesuatu hasil (trickle down effect), value added dan multiflier effect berupa meningkatnya kesejahteraan masyarakatnya secara kontinyu. Tetapi justru hanya menguntungkan segelintir orang saja di dunia bisnis dan pemerintahan, berupa maraknya tingkat KKN ke seluruh sistim ekonomi dan pemerintahan, ekonomi rente, mark-up bisnis dan proyek, manipulasi dan white collar crime perbankan, monopoli perusahaan swasta dan BUMN. Tetapi hal yang paling utama dan krusial adalah kurangnya daya visioner, kurangnya profesionalisme dan ketidakmampuan dalam mengelola utang swasta dan negara dengan struktur permodalan yang sangat timpang dengan range modal hanya 5 – 20 % dengan porsi utang 80 – 95 % serta manajemen risiko kredit dan bisnis serta manajemen krisis yang kurang dapat diandalkan untuk meredam makin menghebatnya turbulensi dan krisis ekonomi.

3. Struktur Pembentukan dan Karakter Bangsa yang kurang solid dan partisipasif.
Bangsa Indonesia sebenarnya terdiri dari berbagai keragaman suku, agama dan golongan yang berbentuk pasir sebagai suatu bentuk organisasi yang tidak solid, partisipasif dan berdaya juang yang tinggi serta kurangnya konsistensi dan komitmen. Fragmen pasir ini tidak mempunyai “daya kohesitas” yang tinggi, gampang terpisah dan kurang saling mendukung (justru saling menjatuhkan dan menjegal). Kelompok pasir ini jika dimasukkan dalam bola (globalisasi) dan dijatuhkan ke bawah (gejolak gaya gravitasi) tidak akan melenting, tetapi justru lengket di atas tanah, artinya bola pasir ini tak mempunyai “daya lenting (recovery)” yang kuat untuk bangkit kembali (1997 hingga saat ini, meski pernah mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5 % pada 2003 tetapi hanya ditopang oleh sektor konsumsi 3 – 4 % sejak 1999 – 2002 dan mulai menanjak kembali pada 2007 hingga 6,2 % oleh perolehan ekspor SDA (ke China, India, USA, Eropa dan Jepang serta meroketnya spekulasi harga komoditas minyak, tambang lain dan perkebunan. Hal ini terbukti dengan pertumbuhan ekonomi pada 2009 hanya 4,5 % saja dengan tingkat ekspor yang menurun dan harga komoditas SDA yang anjlok sebesar 40 – 50 % dari harga tertinggi pada 2007. Dengan demikian, jika dilihat secara fundamental dan stuktural ekonomi maka pertumbuhan ekonomi sangat didukung oleh faktor konsumsi (60 %), ekspor SDA (30 %) dan ekspor manufaktur (10 %) dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang kurang berkualitas dalam arti belum mampu memberikan suatu kesejahteraan bagi seluruh rakyat banyak. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja kabinet dengan berbagai kebijakan ekonominya tak terlalu signifikan dan cemerlang, karena tanpa pemerintahan yang kuat dan hebatpun, ekonomi pasti akan tumbuh wajar pada 3 – 4,5 % tanpa gangguan krisis ekonomi internal maupun eksternal (krisis ekonomi USA dan dunia pada tahun 2007/2008).
Untuk itu diperlukan suatu paradigm baru dan perubahan mindset dengan cara open minded terhadap kebersamaan, persatuan, semangat nasionalisme dan kepahlawanan untuk mengikis habis segala mental feodal, KKN, egois, serakah, instant dan mau enaknya sendiri serta berjuang dengan kerja keras tapi smart untuk menghargai prestasi serta disiplin dan etos kerja yang professional dalam menghasilkan produk kreatif dan innovatif ber’value added” tinggi yang disertai dengan produktifitas yang tinggi pula. Kita memulainya dengan kekayaan SDA, baik non renewable resources maupun renewable resources dengan teknologi pengolahan yang maju agar bangsa kita mendapatkan value added yang tinggi dan bukan lagi sebagai negara eksportir SDA yang masih mentah demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur. Jadi keunggulan kita adalah membentuk sebuah negara bersifat Natural Based Industrial State. Pembangunan haruslah menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan antar wilayah, sehingga ketimpangan pembangunan ekonomi dapat lebih didasarkan pada keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam bentuk demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial secara merata, non diskriminatif, konsisten dan kontinyu.
(Sumber, http://edmond-lalang.blogspot.com/)

Jumat, 29 Januari 2010

FORDA UKM ACEH BESAR

BANDA ACEH - Bupati Aceh Besar, Bukhari Daud, mengharapkan agar Forum Daerah (Forda) Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tidak menjadi parasit, hanya memungut iuran, tanpa memberi manfaat bagi anggotanya. “Karenanya forum ini harus diurus dengan sungguh-sungguh oleh orang yang memang memiliki dan menjalankan bisnis,” kata Bukhari Daud dalam sambutannya pada launching Forda UKM Kabupaten Aceh Besar periode 2009-2012 di The Pade Hotel, Aceh Besar, Rabu (27/1).

Kegiatan launching Forda UKM Aceh Besar ini merupakan bagian dari Program Penguatan Advokasi Jejaring UKM yang merupakan komponen Program Tata Kelola Perekonomian Daerah Aceh (SPADA EGA) di lima kabupaten/kota di Aceh, yang difasilitasi Forda UKM Sumatera Utara, dan didukung oleh The Asia Foundation dan World Bank.

“Saya mohon Forda UKM serius dan mempunyai komitmen untuk menolong usaha kita. Hari ini kita meresmikan launching Forda UKM Aceh Besar. Forda UKM perlu membuat definisi dan batasan-batasan tentang keanggotaan agar Forda menjadi organisasi yang solid. Mudah-mudahan Allah meridhoi kita semua,” harap Bukhari Daud.

Hadir pada acara itu sejumlah stakeholder, pimpinan bank, perwakilan organisasi non pemerintah, Forda UKM Sumut, dan ratusan pelaku UKM di Aceh Besar. Pada kesempatan itu, Koordinator Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) Aceh, Hamdani, memaparkan situasi UKM di Aceh, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia. Diketahui bahwa pembinaan dan dukungan terhadap UKM, mampu menumbuhkan UKM menjadi lebih baik dan lebih mandiri.

Usai kegiatan launching, diperkenalkan pengurus Forda UKM Kabupaten Aceh Besar periode 2009-2012, yakni Ketua, M Jamil ZA, Wakil Ketua bidang Organisasi, Bahagia SE, Wakil Ketua bidang Advokasi, Muda Zauhari AMd, Wakil Ketua bidang Jaringan Bisnis, Dra Cut Asmawati, Sekretaris, Mahlizar SPd, Wakil Sekretaris, Suanda, Bendahara, Cut Aja Meutia SPd, dan Wakil Bendahara, Henny Susianty.(c47)

Selasa, 15 Juli 2008

BDSP BAGI UMKM DI NAD


BDS – Dukungan terhadap perkembangan UMKM

Dalam mendukung program rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh dan Nias, NGO lokal
dan internasional telah berperan penting. Konstribusi mereka terdapat di berbagai
sektor; ekonomi, sosial, politik, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lain-lain.

Dalam peningkatan peningkatan dan penguatan ekonomi masyarakat, program
livelihood dan program lainnya di Aceh dan Nias telah melakukan berbagai kegiatan.
Diantaranya pelatihan manajamen bisnis (memulai dan meningkatkan usaha) dan
pelatihan keahlian. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan dasar-dasar
pengetahuan dan keahlian dalam mengelola usaha sendiri.

Saat ini sudah banyak tumbuh bisnis-bisnis baru dari hasil kegiatan tersebut.
Lapangan Kerja baru pun tercipta. Umumnya usaha-usaha baru ini masih mendapat
dukungan, baik dari segi kapasitas maupun finansial. Meskipun tidak sedikit
beneficiaries yang harus berjalan sendiri setelah mendapat pelatihan dan/atau
bantuan.

Dengan segera berakhirnya masa rekonstruksi dan rehabilitasidi Aceh dan Nias,
banyak NGO yang telah berakhir program dan mulai meninggalkan Aceh dan Nias dan
benefeciary-nya. Usaha baru yang masih memerlukan dukungan terpaksa harus
ditinggalkan.

Setelah konflik yang berkepanjangan dan bencana alam di Aceh dan Nias, para
pengusaha baru sulit bertahan bila tidak mendapat dukungan, baik dari segi motivasi,
pengembangan produk, pengembangan strategi pemasaran dan informasi pasar,
akses kredit, perencanaan keuangan, mengelola karyawan, pencatatan, dan lain-lain.
Pengalaman menunjukkan tanpa dukungan pasca pelatihan, usaha baru akan sulit
bertahan dan berkembang.

Pertanyaannya adalah, Siapa yang akan menindaklanjuti usaha mereka selanjutnya?

Apa itu BDS?
Business development services (BDS) adalah jasa layanan non keuangan terhadap
para pengusaha dan menyediakan jasa:
- Pelatihan
- Konsultasi
- Dukungan pemasaran
- Informasi bisnis
- Akses teknologi
- Advokasi
- Jaringan bisnis
- Pengembangan infrastruktur
- Dan jasa non keuangan lainnya

BDS membantu UMKM agar lebih menguntungkan dengan membantu mereka dengan
cara:
- Mengembangkan dan menghasilkan produk yang berkualitas secara efektif;
- Akses pasar yang bernilai tinggi;
- Mengelola bisnis secara lebih efisien; dan
- Secara umum meningkatkan dan mengembangkan bisnis mereka


Mengapa BDS itu penting?
BDS menjadi sangat penting di daerah konflik dan bencana (mis. di daerah relokasi
pengungsi) dan di daerah rekonstruksi pasca konflik dan bencana dimana terjadi
kerusakan baik secara manusianya maupun infrastruktur. Infrastruktur manusia
misalnya tenaga Kerja, yang kehilangan keahlian kewirausahaan, jaringan, dan
pelanggan, dan infrastruktur fisik termasuk rusaknya jaringan komunikasi dan
transportasi, dan fasilitas produksi dan mesin-mesin. Kerusakan ini akan membuat
pengusaha lokal makin sulit untuk berusaha di lingkungan ekonomi yang telah lemah.

Untuk itu pengusaha perlu mendapat dukungan untuk menjaga kestabilan jaringan
pelanggan dan pemasok, dukungan finansial, dan segala aspek manajemen bisnis.
(sumber: International Labour Organization, 2005).

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang BDS, silahkan klik:
http://www.ilo.org/public/english/region/asro/colombo/download/busideveservs.pdf

--++--

BDS Provider (BDS-P) dapat membantu UMKM dalam menyiapkan dan
mengimplementasikan usaha baru dan meningkatkan usaha yang telah ada.
Berbagai dukungan dapat diberikan seperti pelatihan lanjutan sesuai dengan
kebutuhan, konsultasi, konseling, monitoring dan evaluasi bisnis, dan jasa non
keuangan lainnya yang dibutuhkan. BDS-P dapat menggantikan peran NGO
internasional dan lokal yang selama ini mendukung usaha mereka agar dapat
bertahan dan berkembang. Juga bisa berperan sebagai perpanjangan tangan NGO
tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Siapa yang akan membayar Jasa BDS-P?

Seperti halnya UMKM, BDS-P agar dapat bertahan juga harus memperoleh
keuntungan dari jasa yang ditawarkan. Berbagai cara dapat dilakukan agar BDS-P
terus dapat memberikan dukungan bagi UMKM, diantaranya:
1. UMKM itu sendiri membayar jasa BDS-P dan memasukkan pembayaran tersebut
dalam komponen biaya;
2. Organisasi Donor membiayai BDS-P dalam memberikan jasa kepada UMKM;
3. Jasa BDS-P dinilai dalam bentuk saham di UMKM;
4. BDS-P memperoleh bagi hasil dari selisih peningkatan keuntungan sebagai hasil
layanan dari BDS-P. Cara ini biasaya yang paling mungkin untuk dilakukan
terutama terhadap usaha yang belum mampu membayar langsung jasa BDS-P.
Beberapa teman-teman di BDS-P telah mempraktekkan cara ini;
5. Cara lain yang menerapkan prinsip saling menguntungkan.

Bagi rekan-rekan yang bekerja baik di NGO lokal maupun internasional yang
mempunyai UMKM binaan dapat menghubungkan mereka dengan BDS-P yang ada.

BDS-P BEST bersedia jika diminta untuk mempresentasikan layanan kami kepada
beneficiaries atau kepada yang lainnya dan menjadi partner dalam mendukung UMKM
sehingga mereka mampu bertahan dan berkembang.

Di bawah ini daftar beberapa BDS-P di Aceh dan Nias yang dapat direkomendasikan,
merupakan BDSP yang memiliki trainer atau konsultan yang telah di latih oleh ILO
dan/atau IFC:
1. Ivan Enterprise Group (NAD, Medan, Nias, dan Brisbane Australia)
Contact Person: Jumi Sanoprika
Phone: 0812 695 7921, email: jumisanoprika@yahoo.com, http://ieg.cc
2. BEST (NAD)
Contact Person: Helmi Kurniawan
Phone: 0819 739 11199, 081227 040444, 0852 6029 4445
Email: admin@bdsp-best.com, helmikurniawan@bdsp-best.com
Website http://www.bdsp-best.com
3. da Sylva Enterprise (Aceh Besar)
Contact Person: Dina Ediwani
Phone: 0852 7772 2080,0812 69 57014
Email: dina_ediwani@yahoo.com, http://www.dasylva.co.cc
4. El Husna Enterprise (Pidie)
Contact Person: Nonong Husna
Phone: 0852 6058 0538, email: nononghusna_25@yahoo.com
5. Meulaboh Raya (Aceh Barat)
Contact Person: Abdul Munir
Phone: 0813 6002 9992
6. LPMP (Aceh Jaya)
Contact Person: Marwan Umar
Phone: 0813 2535 7413
7. Mata Air (Aceh Selatan)
Contact Person: Subiyono
Phone: 0852 6238 4153
8. Nias Enterprise (Nias)
Contact Person: Nurtijah Dakhi
Phone: 0852 7054 1000

Di samping itu juga ada banyak BDS-P lain yang tidak disebutkan di sini yang telah
berperan penting dalam penguatan ekonomi masyarakat, khususnya di daerah Aceh
dan Nias.


Sumber : http://www.siyb- association. org