Kamis, 28 Oktober 2010

DISKUSI WARUNG KOPI BUKOPIN

Thu, Oct 28th 2010, 13:46
Bukopin Targetkan Realisasi KUR Capai Rp 12 MiliarEkonomi | Bisnis

Sumber : Harian Serambi Indonesia
BANDA ACEH - Bank Bukopin Cabang Banda Aceh menargetkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun 2010 sebesar Rp 12 milair. Dari target tersebut, realiasi yang telah dicapai sebanyak Rp 3 miliar.

“Tahun lalu kita menyalurkan KUR sebesar Rp 2,3 miliar dari target Rp 7 miliar. Tahun ini penyaluran sudah mencapai Rp 3 miliar dari target Rp 12 miliar. Prediksi kita angka itu akan bertambah lagi, setelah melihat perkembangan yang signifikan di sektor ini. Ke depan kita akan terus menyalurkan KUR,” kata Pimpinan Bank Bukopin Cabang Banda Aceh, Dhani Tresno SE MM.

Hal itu diutarakannya saat berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia di Jalan Raya Lamboro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Rabu (27/10). Dia hadir bersama Manager Pelayanan dan Ops, Yefri Marlon, Relationship Oficer (RO) Funding, Maimun Ridwan SE, dan RO Lending, Azliansyah SE.

Menurut Dhani, ada banyak sektor UKM, baik perorangan, koperasi, maupun badan usaha yang telah menerima manfaat KUR dari Bank Bukopin sejak diluncurkan tahun 2005. Tercatat sebanyak 30 sektor usaha produktif dan lebih dari 40 usaha perdagangan ritel seperti sembako, spare part, material bangunan, dan sebagainya. “Tapi yang outstanding saat ini hanya 15 unit. Terbanyak penerima KUR kita yaitu Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebab kedua wilayah ini merupakan daerah operasional kita,” kata Dhani.

Jajaki kerja sama
Sementara, dalam lawatan mediaship-nya itu, Bank Bukopin Cabang Banda Aceh, mengajak Harian Serambi Indonesia untuk bekerja sama dalam acara Diskusi Warung Kopi yang membahas soal isu dan perkembangan perekonomian di Aceh. Rencananya acara besutan mereka itu akan diluncurkan dalam waktu dekat.

Pemimpin Perusahaan Serambi Indonesia, Mohd Din yang didampingi, Manager Iklan, Lailun Kamal, Pj Manager Percetakan Umum, Firdaus D, Manager Keuangan, Budi Safatul Anam, GM Radio Serambi FM, Bambang Maladi, dan Executive Radio Serambi FM, Rosnani HS, menyambut baik ajakan kerja sama tersebut.

“Enam belas tahun lalu, ketika harian ini baru terbit, kita sering melakukan diskusi dengan perbankan di Aceh tentang perkembangan perekonomian di Aceh. Maka itu kami sangat menyambut baik ajakan kerja sama ini dan akan segera kita bicarakan hal itu. Apalagi kita sangat prihatin dengan pertumbuhan ekonomi dan perputaran uang di Aceh yang berjalan lambat,” kata Mohd Din.(c47)

Kamis, 21 Oktober 2010

ACEH BUSINESS SUMMIT 2010

Thu, Oct 21st 2010, 11:54
Aceh Business Summit 2010
300 Pengusaha Diundang Untuk Berinvestasi
* Acara Berlangsung di Jakarta dan Aceh

Sumber : Harian Serambi Indonesia-Ekonomi | Bisnis

BANDA ACEH - 300 Pengusaha nasional dan internasional diundang hadir dalam acara Aceh International Business Summit 2010. Acara berlangsung di dua tempat berbeda, yaitu di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, tanggal 10 November 2010, dan Hotel Hermes Palace Banda Aceh, 13 November 2010.

Pertemuan bergengsi dan bertaraf internasional tersebut akan dihadiri oleh berbagai kalangan berkompeten di bidang ekonomi dan investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. “Acara ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih jauh peluang-peluang bisnis dan investasi di Aceh, serta mengajak pengusaha asing terlibat secara penuh di dalamnya,” kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh, Firmandez, dalam jumpa pers di Gedung Saudagar Aceh, Rabu (20/10).

Dalam pertemuan itu jelasnya, potensi perdagangan lokal, regional, dan internasional dapat digali secara mendalam, sehingga peluang dan rencana investasi dapat disusun secara lebih komprehensif oleh pihak-pihak yang terlibat. “Kita juga berharap, tantangan dan kendala yang terjadi selama ini bisa secara bersama dicarikan solusinya, sehingga perdagangan dan investasi bisa hidup kembali,” tambah Firmandez.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Dr Suraiya IT mengatakan, acara summit digelar dalam dua sesi, yaitu di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, tanggal 10 November 2010, dan di Hotel Hermes Palace Banda Aceh, tanggal 13 November 2010. Pihaknya mengundang 300 pengusaha untuk hadir dalam dua pertemuan tersebut.

Di Jakarta katanya, acara akan melibatkan pengusaha Aceh yang tergabung dalam Aceh Business Club. “Peserta kita batasi, ada 100 kursi disediakan. Peserta diseleksi, yang ikut nanti mereka yang interest dan pernah terlibat dan kontruksi di Aceh pascatsunami,” kata Suraiya.

Sedangkan di Banda Aceh akan disediakan delapan meja. Di sini para investor disodorkan pilihan, bidang apa yang mereka minati untuk menanamkan modalnya di Aceh. Di pertanian, perkebunan, pertambangan, perternakan, dan atau pariwisata. “Setelah itu, akan ada dialog dan diskusi langsung antara pengusaha lokal dengan para investor,” imbuhnya.

Tim Ekonomi Pemerintah Aceh dan Chairman Aceh Business Working Group (ABWG), Iskandarsyah Bakri, mengatakan, Pemerintah Aceh sudah bekerja keras menyusun regulasi untuk memudahkan pihak investor lokal dan asing masuk ke Aceh. Apalagi katanya, kondisi Aceh sekarang relatif aman dan bisa dikatakan ripe atau ‘masak’ untuk investasi jangka panjang.

“Pemerintah Aceh akan menjadikan Aceh sebagai Logistic Hub Regional dengan sistem perdagangan yang berkelanjutan (sustainable), melibatkan perbankan, eksportir, dan pergudangan untuk melayani importir dan pasar,” katanya. Kepala Bidang Investasi Aceh, Badaruddin Daud, menyebutkan, dalam pertemuan di Jakarta nanti akan hadir Menteri BUMN Mustafa Abubakar, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, dan Wayne Forest dari American-Indonesian Chamber of Commerce akan menjadi pembicara utama.

Summit ini lanjutnya, dilaksanakan dalam rangka menindaklanjuti kunjungan Gubernur dan Kadin Aceh ke Amerika Serikat pada September 2007. Forum ini juga bermanfaat mendekatkan SDM di Aceh dengan lapangan kerja. Serta guna memacu peningkatan jumlah kualitas SDM di Aceh di berbagai sektor investasi dan perdagangan.

“Pertemuan di Jakarta merupakan gateway to investment in Aceh dan pertemuan kedua di Banda Aceh merupakan bentuk aksi yang lebih nyata yang mempertemukan pengusaha dalam satu meja. Di Banda Aceh kita mengundang CEO Media Indonesia Grup, Surya Paloh, dan Konsul Amerika di Medan, Stanley Harsya sebagai pembicara,” sebut Badaruddin.(c47)

BSM menyalurkan pembiayaan kepada peternak di Aceh

Thu, Oct 21st 2010, 14:19
BSM Salurkan Bantuan Biaya Untuk 50 Peternak

Ekonomi | Bisnis

BANDA ACEH - Bank Syariah Mandiri (BSM) Banda Aceh kembali menyalurkan pembiyaan bagi 50 peternak di Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Ini untuk meningkatkan produksi daging ayam dan mengurangi ketergantungan pasokan daging ayam dari luar Aceh. Sampai saat ini BSM telah membiayai sekitar 86 peternak yang berada di seluruh Aceh.

Kepala Cabang BSM Banda Aceh, Elfian Jailani, menjelaskan, pembiayaan kepada peternak ayam ini telah dijalankan sejak 2007. Kata dia, dari 36 peternak yang BSM Banda Aceh biayai sebelumnya, seluruhnya dapat menyelesaikan kewajiban dengan baik kepada BSM.

“Kondisi peternakan yang dibantu BSM semakin berkembang. Sebelumnya peternak hanya memproduksi sekitar 5.000 ekor per satu kali panen, sekarang meningkat hingga tiga kali menjadi 15.000 ekor,” sebut Elfian.

Untuk tahun 2010 ini, pihaknya telah mencairkan pembiayaan kepada 40 peternak, dari yang direncanakan sebanyak 50 peternak. Rata-rata produksi mencapai 5.000 sampai dengan 6.000 ekor per satu kali panen per kandangnya.

Pembiayaan ini diharapkannya mampu meningkatkan produksi daging ayam, sehingga sanggup memenuhi kebutuhan daging ayam di kawasan Aceh dan ke depan diharapkan Aceh tidak perlu lagi memasok daging ayam dari luar daerah.

“Dengan penyaluran pembiayaan ini kita berharap para peternak dapat terus meningkatkan usahanya, sehingga secara langsung mempengaruhi peningkatan pendapatan bagi peternak di Aceh dan berdampak bagi masyarakat dengan menyerap tenaga kerja lebih banyak,” demikian Elfian.(c47)

Rabu, 20 Oktober 2010

Wajah Koperasi Di ACEH

Wed, Oct 20th 2010, 14:05
Pengembalian Dana Koperasi Banyak Menunggak
* Pemerintah Aceh Cari Mekanisme Baru
Ekonomi | Bisnis
Submber : Harian Serambi Indonesia

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh saat ini sedang mencari mekanisme baru dalam upaya menyalurkan dana bergulir kepada koperasi di Aceh. Hal itu dilakukan karena banyaknya dana yang menunggak, belum dikembalikan oleh pihak koperasi. Sejak tahun 2007 hingga 2008 tercatat, ada Rp 110,5 miliar dana yang disalurkan. Tahun 2010 ini, pemerintah Aceh berencana akan menyalurkan lagi dana bergulir tersebut.

“Sejak dana ini mulai dikucurkan tahun 2007 lalu, tidak ada satu kabupaten/kota pun yang lancar pengembaliannya. Program ini tidak berjalan sama sekali. Koperasi-koperasi yang menerima dana bergulir ini sebagian besar tidak mengembalikan pinjaman modal usaha yang diberikan,” kata Kepala Biro Ekonomi Sekda Aceh, T Sofyan dalam kegiatan sosialisasi penyaluran dana bergulir yang diberikan kepada para kepala dinas yang membidangi koperasi dari 23 kabupaten/kota di Aceh, yang berlangsung di Hotel Grand Nanggroe, Selasa (19/10).

Karena itu sambungnya, Pemerintah Aceh harus memikirkan mekanisme baru proses penyaluran dana, serta akan memperketat pengawasan pengembalian dana bergulir tersebut. Menurut Sofyan, selain faktor lemahnya pengawasan saat pengembalian dana, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan pengembalian dana bergulir tidak berjalan. Salah satunya karena sebagian besar penerima manfaat menganggap dana pemerintah tersebut tidak perlu dikembalikan atau bersifat hibah.

“Mungkin kurang dilakukan pembinaan kepada penerima manfaat, dalam hal ini koperasi. Maka kami mengadakan kegiatan sosialisasi tentang apa dan bagaimana dana ini, untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman. Kami juga menampung semua informasi dari lapangan yang memberi tahu tentang kendala lain yang ditemui saat proses pengembalian dana,” imbuhnya.

Selain itu menurut Sofyan, untuk memperketat pengawasan saat pengembalian, mekanisme penyaluran dana bergulir sebaiknya tidak langsung dilakukan pemerintah, tapi melalui lembaga keuangan seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR) atau Baitul Qiradh (BQ). “Jika diserahkan kepada lembaga keuangan yang profesional seperti BPR atau BQ, maka penerima manfaat akan lebih terkontrol saat melakukan pengembalian. Juga perlu ditetapkan bunga pinjaman, agar pihak yang mendapatkan dana bergulir memiliki rasa tanggung jawab terhadap dana yang dia dapat,” tambahnya.

Kepala Administrasi Sarana Perekonomian Biro Perekonomian Setda Aceh, Amiruddin, menyebutkan, pada tahun 2007 pemerintah Aceh mengalokasikan dana bergulir sebesar Rp 6,5 miliar dan pada tahun 2008 sebesar Rp 19 miliar. Disamping itu juga ada dana yang bersumber dari APBN sebesar Rp 85 miliar. “Untuk saat ini, baru dana bergulir tahun 2007 yang sudah jatuh tempo pembayaran,” sebutnya.

Amiruddin menambahkan, tahun 2010 ini akan ada dana bergulir yang akan disalurkan kepada koperasi-koperasi di Aceh. Karena itu pihaknya akan melakukan verifikasi koperasi yang layak menerima bantuan, sebab dari total 6.000 lebih koperasi yang ada, hanya sekitar setengahnya saja yang aktif.

Tahun 2009 lalu sebenarnya, dana bergulir yang siap untuk dicairkan mencapai Rp 24 miliar. Namun karena data penerima manfaat yang terkumpul dianggap tidak tepat sasaran, maka sampai sekarang dana tersebut belum bisa dicairkan.

“Sedang untuk tahun 2010, dana akan dikucurkan pada November setelah verifikasi selesai. Kami juga sedang mengupayakan agar koperasi yang belum mengembalikan dana bergulir tahun 2007 dan 2008 untuk segera melunasinya,” ujar Amiruddin.(ami)

Minggu, 26 September 2010

ACEH BUTUH UKM CENTER


Sun, Sep 26th 2010, 11:59
Maksimalkan Pembiayaan
Aceh Butuh UKM Center
Ekonomi | Bisnis

BANDA ACEH - Mempermudah akses usaha kecil kecil dan menengah (UKM) terhadap pembiayaan perbankan, Aceh dinilai perlu memiliki sebuah wadah yang menjadi pusat UKM atau UKM Center. Sampai saat ini, porsi pembiayaan terhadap UKM di Aceh masih lebih kecil dari total pembiayaan yang dikucurkan perbankan di Aceh.

“UKM Center ini perlu ada di Aceh. Tugasnya mempermudah debitur mengakses perbankan. Pembinaan dan pengawasan nasabah juga akan lebih terkonsentrasi,” kata mantan praktisi perbankan, Aminullah Usman SE, Ak, MM, kepada Serambi, Sabtu (25/09).

Usaha tersebut, sambungnya, tidak saja akan bisa mengoptimalkan pembiayaan kepada UKM, tetapi juga akan ikut mengatasi persoalan tingginya risiko kredit macet. Sebab sebagaimana diketahui, salah satu penyebab sulitnya UKM mengakses perbankan, salah satunya adalah karena perbankan masih melihat UKM sebagai sebuah usaha yang memiliki risiko tinggi.

Peran Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) menurutnya perlu dimaksimalkan. “Mereka sudah mengenal nasabah dari awal sehingga pembinaan oleh bank menjadi lebih mudah,” ujarnya.

Aminullah juga menilai perlunya membentuk sebuah Lembaga Penjaminan Keuangan Daerah (LPKD) yang berfungsi sebagai lembaga penjamin kredit. Bank-bank umum juga disarankannya untuk melakukan kerja sama dengan BPR melalui (linkage program), sebab BPR dinilai memiliki jangkauan paling dekat dengan usaha kecil. Disamping itu bank juga bisa menerapkan pola Grament Bank. “Pembinaan terhadap nasabah juga harus ditingkatkan, misalnya training dalam bidang manajemen dan pemasaran,” tambah mantan Dirut PT BPD Aceh tersebut.

Tarik dana luar
Di sisi lain, Aminullah juga menjelaskan tentang trend perkembangan kredit di Aceh yang terus mengalami peningkatan. Hingga 30 Juni 2010, berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Banda Aceh, total kredit yang berhasil disalurkan perbankan di Aceh mencapai Rp 15,65 triliun. Sementara dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun sebesar Rp 16,43 triliun.

“LDR (loan to deposit ratio) perbankan sudah mencapai 95 persen. Ini cukup bagus. Hanya saja memang, kredit ke UKM masih lebih kecil, yakni Rp 7,8 triliun, sedangkan kredit untuk sektor lainnya mencapai Rp 9,45 triliun,” sebutnya.

Dia juga melihat adanya trend yang tidak berimbang antara perkembangan dana pihak ketiga dan kredit dengan beberapa tahun sebelumnya di saat Aceh masih dalam masa rehab rekons. Tahun 2008 lalu, DPK perbankan mencapai Rp 18,5 triliun, sekarang turun menjadi Rp 16,43 triliun. Sedangkan kredit dari Rp 10,6 triliun naik menjadi Rp 15,65 triliun.

“Terjadi trend yang tidak berimbang di sini. Karena itu perbankan kita sarankan tidak hanya mengunakan uang dari Aceh untuk kredit tetapi juga menarik dana dari luar untuk disalurkan kemari,” demikian Aminullah Usman.(yos)

Selasa, 22 Juni 2010

Salur Kredit, Bank Diminta Maksimalkan KKMB

BANDA ACEH - Perbankan di Aceh diminta bisa memaksimalkan peran Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) dalam upaya penyaluran kredit ke sektor usaha mikro kecil menengah. Kehadiran lembaga tersebut dinilai cukup membantu, terbukti dengan realisasi yang dicapai tahun 2009 kemarin. “Kita sangat berharap perbankan di Aceh, apakah itu bank pemerintah maupun swasta, bisa memaksimalkan peran KKMB ini, sehingga kucuran kredit ke sektor UMKM bisa lebih besar,” kata Kepala Biro Perekonomian Aceh, T Sofyan, kepada Serambi, usai Rapat Koordinasi dan Evaluasi Kinerja Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) di Banda Aceh, Senin (21/6).

Sebelumnya, Asisten Keistimewaan Pembangunan dan Ekonomi Pemerintahan Aceh, T Said Mustafa, dalam sambutannya menyebutkan, realisasi kredit yang dikucurkan melalui KKMB tahun 2009 kemarin mencapai Rp 17 miliar, yang terbagi untuk 966 UMKM, baik yang tergabung dalam kelompok usaha maupun individu. Pencapaian ini jauh melampaui target yangditetapkan pemerintah Aceh yang hanya sebesar Rp 15 miliar. “Karena itu, tahun 2010 ini pemerintah Aceh akan menaikkan target penyaluran menjadi Rp 20 miliar,” kata Said Mustafa.

KKMB dibentuk pada 2007 atas usulan Bank Indonesia (BI) Banda Aceh yang diperkuat dengan Peraturan Gubernur. Lembaga ini berada langsung di bawah binaan BI dengan tugas utama memfasilitasi pinjaman modal usaha dari bank kepada pengusaha serta memberi pengetahuan tentang pengelolaan keuangan terhadap modal yang diberikan. Tahun 2008 lalu, lembaga ini berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 8,3 miliar, dan meningkat menjadi Rp 17 miliar di tahun 2009. Hingga April 2010, kredit yang tersalur telah mencapai Rp 4,5 miliar. Penyaluran tertinggi terjadi di Banda Aceh dan Aceh Utara.

Evaluasi
Terkait dengan acara tersebut, T Sofyan menjelaskan, rapat koordinasi dan evaluasi kinerja KKMB ini dimaksudkan untuk mensinergikan peran dan fungsi KKMB dengan pihak perbankan dan Pemerintah Aceh sebagai pendukung utama kegiatan. “Pemerintah Aceh bertindak sebagai koordinator dalam masalah ini, yang berperan aktif adalah pihak bank, KKMB dan kelompok usaha masyarakat atau UKM yang produktif itu sendiri. Saat ini sudah terdaftar 58 KKMB di Aceh yang terkoordinasi lewat Bank Indonesia di Aceh dan akan terus melakukan pembinaan terhadap KKMB,” ujarnya.

Amri Abdullah, salah seorang anggota KKMB Aceh menyebutkan, selain memfasilitasi pinjaman modal usaha kepada pengusaha, KKMB juga ikut memberikan pengetahuan tentang pengelolaan keuangan terhadap modal yang diberikan. “Kami terus menyosialisasikan program KKMB kepada petugas lembaga keuangan bank maupun LKM juga masyarakat dan pengusaha kecil, agar semakin banyak UMKM yang terbantu mengembangkan usaha produktif mereka,” ucap Amri.(ami)

Jumat, 18 Juni 2010

BIO-ECONOMIC SEBAGAI ALTERNATIF

Ada sejumlah keluhan pada beberapa waktu ini bahwa ilmu ekonomi sudah tidak mampu lagi melakukan prediksi dan pemecahan berbagai masalah ekonomi yang kompleks dan rumit bahkan sejak 1930 pada saat terjadinya “Great Depression” hingga krisis finansil yang melanda dunia pada 2007 yang hingga saat ini belum juga pulih sepenuhnya. Memang ilmu ekonomi masih mampu melakukan prediksi pada saat kegiatan ekonomi masih sederhana, tertutup dan masih bersifat regional dengan sistim perdagangan yang bilateral. Dengan adanya globalisasi, khususnya di sektor finansil pada pasar uang, saham, derivatif, komoditi, obligasi dan surat berharga lainnya.
Menurut Prof. Paul Ormerod bahwa ilmu ekonomi telah mati (The Death of Economic) dan beliau memberikan suatu solusi untuk memakai metoda The Butterfly Economics dalam bentuk cara semut dalam berkelompok dan berorganisasi, termasuk menentukan target gula yang dapat diartikan sebagai peluang bisnis dan keuntungan ekonomi dalam bentuk kerjasama yang harmonis. Hal inilah yang telah digagas oleh Adam Smith sebgai Bapak Ilmu Ekonomi bahwa ekonomi adalah suatu ilmu untuk mensejahterakan masyarakat dengan selalu menjaga lingkungan hidup dan alam semesta (astronomis) ini agar selalu harmonis dan sinergis yang berguna bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang. Tetapi para ekonom pengikut Adam Smith tidak dapat menterjemahkan rumusan ini ke dalam rumus, metoda, analisa dan keputusan ekonomi yang baik.
Inti dari pesan mulia ini adalah kita semestinya memperlakukan manusia, hubungan manusia dengan manusia lain dalam kegiatan ekonomi dan pengambilan keputusan ekonomi haruslah dalam konteks yang harmonis terhadap lingkungan sosial, lingkungan hidup dan lingkungan alam semesta dalam visi, kegiatan dan konsep yang lebih kompleks (non-linier), manusiawi dan ramah lingkungan dan bukannya bersifat maksimalisasi keuntungan serta eksploitasi berbagai sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam aspek sosialnya. Itulah sebabnya ilmu ekonomi dan bisnis hanya menghasilkan berbagai masalah, seperti kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, gejolak ekonomi dan sosial-politik, kemiskinan, penyakit, perang dan kerusakan mental (egoisme, keserakahan, konsumerisme, dan kekayaan berlebih tanpa nurani suci).

1. Asumsi-asumsi dan simulasi linier matematis
Ilmu ekonomi banyak menggunakan berbagai asumsi-asumsi sebagai parameter dalam menghitung laju pertumbuhan ekonomi beserta faktor-faktor pengaruhnya yang sering tidak mewakili kondisi sebenarnya yang berkembang di dalam ekonomi lokal dan dunia luar. Ekonom mensimulasi rumus-rumus turunan (derivat) secara matematis yang akan diuji secara statistik (uji kejujuran dan standar deviasi terhadap validasi data) dalam bentuk pola koordinat yang berbentuk garis lurus. Dengan demikian selain hasil metoda ekonomi hanya bersifat tertutup dan sederhana, juga tidak menggambarkan aspek kondisi biologis, psikologis, harapan dan kebutuhan dasar serta kemajuan teknologi manusia yang umumnya bersifat kompleks dan berdimensi 2 – 3 dan tidak mampu diukur secara akurat oleh metoda ekonomi linier yang berdimensi lebih rendah yaitu dimensi1. Pada dasarnya garis linier (lurus) akan dikuasai oleh dimensi ke 2 (garis kwadratik yang melengkung) berbentuk bidang (X Y). Dimensi ke 2 dikuasai oleh dimensi ke 3 berbentuk ruang / volume (X Y Z), dimana kompleksitas manusia sebagai mahluk biologis, psikologis dan sosial akan banyak menggambarkan dimensi ini. Area ini akan banyak digeluti oleh bidang biologi murni, biologi terapan (kedokteran, pertanian, perikanan, kehutanan dan bioteknologi), filsafat, psikologi, sosiologi, seniman, feng sui & hong sui dan sekarang mulai berkembang di bidang teknologi informasi (dimensi 3), komunikasi (3 G), termasuk bidang pasar finansil (financial astronomis) dan program computer artificial intelligent, bio-hibrid, dan lain-lain.
Manusia yang hidup di dunia ini akan selalu dipengaruhi oleh dimensi 1 – 4 dalam bentuk pengaruh fisik dan kimiawi (dimensi 1 – 2), pengaruh biologis untuk bertumbuh dari saat lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa, menua dan mati yang mempengaruhi perkembangan fisik, biologis dan psikologis sesuai dengan tingkat perkembangan budaya, pendidikan, prestasi, status sosial yang sesuai dengan “piramida Maslow” dalam pencapaian needs & wants menuju aktualisasi diri dari seorang individu dan kelompok sosialnya (dimensi 3) dan kehidupan dan ketaatan beragama (dimensi 4). Model teori ekonomi yang tertutup, sederhana dan linier ini tentulah tidak dapat mengantisipasi dan memprediksi secara tepat dan akurat dalam jangka menengah (bulanan-tahunan) hingga jangka panjang (dekade dan abad). Ilmu ekonomi dapat memprediksi dengan baik jika pada kondisi ekonomi tertutup, monopolistis dan sederhana sebagai faktor internal tanpa memperhitungkan faktor eksternal. Dan menurut M. Dawam Raharjo (Cakrawala, harian Bisnis Indonesia, 29-02-2004) bahwa ekonom tidak mempertimbangkan faktor budaya dalam rumus ekonominya. Padahal budaya adalah gambaran dinamika manusia untuk bertumbuh, berkreasi, berkelompok dan berorganisasi sesuai norma dan adat kebiasaan dalam kehidupannya setiap hari, tergantung apakah tertutup, statis dan konservatif atau terbuka, dinamis dan modern yang akan menentukan tingkat kemajuan bangsa itu sendiri, termasuk ekonominya.
Juga menurutnya bahwa Greenspan ekonom terkenal dan Ketua Federal Reserve Board tentang kasus Rusia yang setelah meninggalkan sistim sosialis ternyata tidak serta merta mampu mengembangkan ekonomi pasar bebas (tetapi beliau lupa dengan kemajuan Cina yang akan menjadi negara maju sekuat USA pada 2020). Sehingga ia berucap ternyata not nature at all, but culture. Selama itu sebelumnya, ia melihat bahwa pasar itu seperti alam, punya hukum-hukum pasti, sebagaimana pandangan ekonom umumnya. Hal ini terjadi kontroversi dalam rumus dan praktek ekonomi yang justru bersifat linier semata. Menurut kami, sebenarnya jika ekonom memasukkan hukum-hukum alam, khususnya biologis maka akan jelas adanya suatu “kepastian hukum alam” karena memang alamlah yang membuat terjadinya suatu siklus dalam peradaban (culture) manusia, termasuk siklus ekonomi (recovery, prosperity and recession) dalam perjalanan ruang dan waktu. Seperti paragraph di atas bahwa Adam Smith membuat teori dasar ekonomi berdasarkan hukum alam, tetapi dalam penerapan rumus, teori dan praktek sudah tidak mengimplementasikan pemikiran Bapak Ekonomi ini. Mereka saat ini justru berkutat pada rumus-rumus matematis dan statistik yang bersifat linier belaka tanpa menyertakan berbagai rumus dan realitas hukum alamiah, seperti fisika, kimia dan biologi. Ekonom hanya menurunkan (derivat yang sekarang marak dalam bentuk berbagai bentuk bisnis financial derivatives) rumus matematik empiris dan asumsi – asumsi ekspektasi linier tanpa memperhatikan hukum natural (dimensi 2 – 3) dan hukum supernatural (dimensi 4) yang akan selalu sangat mempengaruhi siklus dan gejolak budaya dan peradaban manusia, (termasuk ekonomi), yang hasilnya jelas terlihat bahwa pembangunan ekonomi dan perkembangan teknologi yang sering tak ramah terhadap lingkungan alam dan sosial. Jadi semestinya ekonom dan teknolog lebih menyandarkan diri pada teori relativitas Einstein, E = mC2 untuk menghasilkan enersi, profit dan hasil berlimpah tanpa harus mengorbankan banyak biaya modal, kerugian (akibat risiko siklus dan gejolak ekonomi), pemborosan SDA, kesenjangan sosial dan kerusakan lingkungan hidup dengan efisiensi pemakaian m (mass) dalam kuantitas lebih sedikit, tetapi memperbesar kecepatan kwadrat (c2), seperti proses hasil yang dilakukan oleh Nannoteknologi. Inilah yang dialami banyak negara, khususnya di era globalisasi yang terbuka dari berbagai inovasi dan pengaruh teknologi, produk, likuiditas uang, budaya serta teknologi informasi dan telekomunikasi, khususnya aliran modal di pasar valas, uang dan saham yang bergerak cepat di seluruh dunia dan mampu menimbulkan gejolak dan turbulensi ekonomi suatu negara dan regional. Ilmu ekonomi matematis dan statistik tidak dapat memprediksi, menghindari dan membuat peringatan dini terhadap suatu kejutan dan gejolak perubahan eksternal yang begitu cepat, massif dan kadangkala ganas jika suatu negara, masyarakat, perusahaan dan individu tidak siap dan mampu mengantisipasi kejutan ini layaknya “second and third wave” Alvin Toffler.

2. Kebijakan Moneter - Fiskal dan Implikasinya dalam Mengantisipasi dan Meredam Krisis Ekonomi 1997 – 1998.
Hal yang akan dilakukan dalam kebijakan ekonomi untuk mengantisipasi dan meredam terjadinya krisis yang makin berat dan mendalam pada tahun 1997/1998 adalah dengan beberapa alternative yaitu menutup kembali keterbukaan itu dengan cara Kontrol Devisa, Fix Rate (Peg to USD), Manage Floating Rate bahkan Currency Board System (CBS) di pasar valas dan saham serta proteksi ketat terhadap berbagai produk dari luar. Dengan saran IMF adalah dengan menaikkan SBI hingga 70 %, pengetatan fiskal, mengurangi subsidi dan melikuidasi sejumlah bank dengan CAR minus. Semestinya para ekonom memang harus memakai ilmu psiko-sosial untuk meredam gejolak dan bukan hanya semata memakai teori ekonomi dan moneter yang sebenarnya tidak terlalu manjur. Dan, meski kelihatannya sangat berat, misleading, merusak perbankan dan bersifat shock therapy untuk memperkuat Rupiah dan mengendalikan import inflation. Tetapi secara ekonomi jangka panjang, sebenarnya adalah agar kita dapat mampu kembali bangkit meski telah banyak mengorbankan bank dan perusahaan yang bangkrut serta naiknya tingkat pengangguran dan kemiskinan. tetapi itulah yang harus kita bayar dan lakukan atas semua kinerja kita yang kurang professional dan prudent dalam mengelola utang negara dan bisnis. Dan hasilnya kita terlihat mulai benar-benar sehat, kuat dan bangkit kembali. Selama ini kita dapat mengandaikan bahwa selama ini kapal Indonesia hanya berlayar pada sebuah aliran sungai yang terttutup dan tenang tanpa adanya angin kencang dan gelombang besar. Gelombang besar dan angin kencang ini mulai mengombang-ambingkan kapal Indonesia di dekat Laut Cina Selatan, di Laut Arafura dan Laut Morotai yang membuat penumpang Indonesia panik, dimana banyak orang berusaha menyelamatkan diri dan akhirnya mengirim SOS ke IMF. Banyak penumpang dalam kepanikan ini ternyata mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Jadi agar kita dapat survive terhadap semua gejolak eksternal pada era globalisasi ini adalah dengan bervisi, berpikir, berkonsep dan berperilaku biologis yang kompleks untuk memecahkan berbagai masalah kompleks terhadap kondisi internal dan eksternal. Kejutan ini dapat berupa munculnya ketidakpercayaan investor global terhadap kondisi manajemen dan perilaku bisnis serta pemerintahan yang tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip ekonomi-bisnis maupun manajemen administrasi (Good Corporate Governance dan Clean Government) yang menimbulkan banyaknya moral hazard, fraud dan adanya mismanajemen lainnya maupun kejutan teknologi berbagai jenis produk barang, jasa dan budaya. Nah pada saat muncul krisis moneter dan ekonomi berupa krisis kepercayaan terhadap pengelolaan bisnis, ekonomi dan pemerintahan, maka investor asing di pasar uang, saham dan sektor riil beramai-ramai meninggalkan negara tersebut dalam bentuk melepas posisi mata uangnya dengan hard currency, panic selling di pasar modal, menarik semua rekening giro dan deposito di perbankan dan surat-surat berharga serta menutup pabriknya yang ujungnya “Capital Flight” besar-besaran. Inilah yang kita kenal sebagai “Krisis yang Berdampak Sistemik”, dimana hampir semua institusi bisnis finansil dan riil akan terkena dampak yang besar dan berat, sehingga sistim ekonomi, bisnis dan finansil akan mengalami kontraksi berat yang menyebabkan gejolak dan krisis parah serta menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi negatif. Hal ini juga terlihat pada saat Jepang mengalami krisis dan deflasi jangka panjang dan juga pada 2007/2008 di USA dan Eropa (kasus Yunani yang hampir bangkrut). Hanya saja negara-negara maju tidak memanfaatkan jasa IMF dalam berutang, tetapi menerbitkan sejumlah surat utang negara dalam berbagai bentuk untuk melakukan paket bailout dan stimulus, sehingga menjadi beban negara yang berat dan harus ditanggung oleh generasi berikutnya, seperti kasus BLBI sebesar Rp. 650 Trilyun. Jadi marilah kita mengelola keuangan negara dan perusahaan secara lebih sehat sesuai struktur permodalan yang kuat dengan manajemen ekonomi-bisnis yang sehat, kreatif, innovatif, efisien dan efektif dalam memajukan negara maupun perusahaan agar tidak terjadi moral hazard, fraud, ketidaktahuan, kecerobohan, kelalaian dan keserakahan dalam mengelola ekonomi dan keuangan negara dan bisnis. Janganlah ingin cepat besar, tetapi penuh lemak yang tambun, lamban dan tidak sehat yang menghasilkan rendahnya daya saing, kerapuhan struktur keuangan dan kinerja ekonomi yang buruk serta kerentanan terhadap gejolak ekonomi internal dan eksternal. Inilah yang semestinya menjadi benchmark fundamental ekonomi dan bukan semata indikator makro ekonomi yang sering membuat perencana ekonomi makin pede dan akhirnya banyak berutang dengan hanya berdasarkan ratio DSR dan ratio Defisit APBN terhadap PDB yang sebenarnya tak tepat. Hutang semestinya didasarkan pada prospektif ekonomi dari kinerja ekonomi riil dan bukan dari gelembung di pasar finansil, apalagi dengan melindungi hal yang rapuh ini pada asuransi hedging yaitu Credit Default Swap (CDS) yang justru spekulatif dan beresiko tinggi, mirip kasus subprime mortgages dan Yunani yang kemudian diderivativekan lagi beberapa tingkatan membentuk bangunan raksasa, tetapi dengan fundamental yang sangat rapuh (fragile underlying sectoral economy). Walhasil jika sektor dan negaranya tak mampu membayar (default), maka akan terjadi gejolak kepercayaan yang menyebabkan terjadinya capital outflow dengan menjual semua surat berharga CDS dan derivativenya dan terjadilah catastrophic. Otomatis, perusahaan dan negara tersebut harus memberikan imbal hasil (yield) yang lebih tinggi agar pasar dapat membeli dan akhirnya makin tercekik dengan hutang yang makin menggunung. Hal ini juga kemungkinan akan dialami oleh Amerika dengan hutang raksasa di kemudian hari, apalagi kondisi ekonomi yang masih rapuh serta kekalahan persaingannya dengan China di ekonomi global.
Perencana dan pengamat ekonomi seringkali tidak dapat melihat secara insight dan visioner adanya kemungkinan kejutan eksternal terhadap suatu negara, dimana pelaku ekonomi dan pemerintah tidak mampu mengelola perusahaan dan negaranya dengan baik dan benar agar menghasilkan sesuatu hasil (trickle down effect), value added dan multiflier effect berupa meningkatnya kesejahteraan masyarakatnya secara kontinyu. Tetapi justru hanya menguntungkan segelintir orang saja di dunia bisnis dan pemerintahan, berupa maraknya tingkat KKN ke seluruh sistim ekonomi dan pemerintahan, ekonomi rente, mark-up bisnis dan proyek, manipulasi dan white collar crime perbankan, monopoli perusahaan swasta dan BUMN. Tetapi hal yang paling utama dan krusial adalah kurangnya daya visioner, kurangnya profesionalisme dan ketidakmampuan dalam mengelola utang swasta dan negara dengan struktur permodalan yang sangat timpang dengan range modal hanya 5 – 20 % dengan porsi utang 80 – 95 % serta manajemen risiko kredit dan bisnis serta manajemen krisis yang kurang dapat diandalkan untuk meredam makin menghebatnya turbulensi dan krisis ekonomi.

3. Struktur Pembentukan dan Karakter Bangsa yang kurang solid dan partisipasif.
Bangsa Indonesia sebenarnya terdiri dari berbagai keragaman suku, agama dan golongan yang berbentuk pasir sebagai suatu bentuk organisasi yang tidak solid, partisipasif dan berdaya juang yang tinggi serta kurangnya konsistensi dan komitmen. Fragmen pasir ini tidak mempunyai “daya kohesitas” yang tinggi, gampang terpisah dan kurang saling mendukung (justru saling menjatuhkan dan menjegal). Kelompok pasir ini jika dimasukkan dalam bola (globalisasi) dan dijatuhkan ke bawah (gejolak gaya gravitasi) tidak akan melenting, tetapi justru lengket di atas tanah, artinya bola pasir ini tak mempunyai “daya lenting (recovery)” yang kuat untuk bangkit kembali (1997 hingga saat ini, meski pernah mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5 % pada 2003 tetapi hanya ditopang oleh sektor konsumsi 3 – 4 % sejak 1999 – 2002 dan mulai menanjak kembali pada 2007 hingga 6,2 % oleh perolehan ekspor SDA (ke China, India, USA, Eropa dan Jepang serta meroketnya spekulasi harga komoditas minyak, tambang lain dan perkebunan. Hal ini terbukti dengan pertumbuhan ekonomi pada 2009 hanya 4,5 % saja dengan tingkat ekspor yang menurun dan harga komoditas SDA yang anjlok sebesar 40 – 50 % dari harga tertinggi pada 2007. Dengan demikian, jika dilihat secara fundamental dan stuktural ekonomi maka pertumbuhan ekonomi sangat didukung oleh faktor konsumsi (60 %), ekspor SDA (30 %) dan ekspor manufaktur (10 %) dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang kurang berkualitas dalam arti belum mampu memberikan suatu kesejahteraan bagi seluruh rakyat banyak. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja kabinet dengan berbagai kebijakan ekonominya tak terlalu signifikan dan cemerlang, karena tanpa pemerintahan yang kuat dan hebatpun, ekonomi pasti akan tumbuh wajar pada 3 – 4,5 % tanpa gangguan krisis ekonomi internal maupun eksternal (krisis ekonomi USA dan dunia pada tahun 2007/2008).
Untuk itu diperlukan suatu paradigm baru dan perubahan mindset dengan cara open minded terhadap kebersamaan, persatuan, semangat nasionalisme dan kepahlawanan untuk mengikis habis segala mental feodal, KKN, egois, serakah, instant dan mau enaknya sendiri serta berjuang dengan kerja keras tapi smart untuk menghargai prestasi serta disiplin dan etos kerja yang professional dalam menghasilkan produk kreatif dan innovatif ber’value added” tinggi yang disertai dengan produktifitas yang tinggi pula. Kita memulainya dengan kekayaan SDA, baik non renewable resources maupun renewable resources dengan teknologi pengolahan yang maju agar bangsa kita mendapatkan value added yang tinggi dan bukan lagi sebagai negara eksportir SDA yang masih mentah demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur. Jadi keunggulan kita adalah membentuk sebuah negara bersifat Natural Based Industrial State. Pembangunan haruslah menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan antar wilayah, sehingga ketimpangan pembangunan ekonomi dapat lebih didasarkan pada keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam bentuk demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial secara merata, non diskriminatif, konsisten dan kontinyu.
(Sumber, http://edmond-lalang.blogspot.com/)